Rabu, 20 Januari 2010

Sinopsis Pilgrimage to the West Episode 2

Rupanya tak lama setelah Wukong pergi, rakyat kera ditindas oleh sekelompok siluman. Dengan marah, Wukong langsung melabrak dan menumpas para siluman berilmu tinggi tersebut. Dalam waktu singkat, reputasinya sebagai kera sakti langsung bergema di seluruh penjuru negeri.

Sepasang siluman yang telah berwujud manusia Qing Jiao dan Bai Feng muncul di Gunung Hua Guo bersama Raja Siluman Kerbau dan tiga siluman lain untuk menyatakan kekaguman mereka pada Wukong. Gembira mendapat pujian, Wukong dan keenam siluman itu akhirnya menyatakan diri sebagai saudara sedarah.

Meski berwujud kera, ternyata ada yang lebih meresahkan Wukong : sebagai mahluk yang sakti, dirinya masih belum memiliki senjata andalan. Atas saran salah seorang saudara barunya, ia langsung bertolak ke Laut Timur untuk bertemu Ao Guang yang disebut-sebut memiliki banyak senjata sakti.

Langsung gentar karena telah mendengar reputasi Wukong, Raja Naga Laut Timur langsung menyuruh para pelayan mengeluarkan satu-persatu senjata miliknya. Sayang meski diakui sebagai benda sakti, senjata tersebut ternyata langsung bengkok begitu digunakan oleh Wukong.

Amarah Wukong nyaris saja meledak, namun Raja Naga Laut Timur, atas nasehat penasehatnya, buru-buru menunjukkan satu benda lain : tiang raksasa Jingu Bang yang biasa digunakan untuk mengatur arus lautan. Begitu didatangi Wukong, tongkat tersebut langsung bersinar terang dan menuruti semua permintaan sang raja kera.

Mendapat tongkat saja ternyata masih belum cukup, Wukong kembali menagih Raja Naga Laut Timur untuk memberinya pakaian terbaik. Dalam keadaan terjepit, Raja Laut Timur memanggil saudara-saudaranya sehingga Wukong mendapat : baju zirah emas, topi bulu phoenix, dan sepatu yang bisa digunakan untuk berjalan diatas awan.

Begitu kembali ke Gunung Hua Guo, Wukong langsung disambut oleh sorak-sorai rakyat kera dan keenam saudara/i angkatnya. Dipuji sebagai mahluk terhebat di atas Bumi, Wukong semakin jumawa dan langsung memamerkan kehebatan tongkat Jingu Bang yang bisa berubah-ubah bentuk dan ukuran sesuai dengan perintahnya.

Malamnya, Wukong merayakan kesuksesannya dengan minum-minum hingga mabuk berat. Saat terbangun, ia mendapati dirinya tengah dibawa ke Kerajaan Neraka. Tidak terima kalau dirinya dinyatakan sudah mati, Wukong langsung mengobrak-abrik tempat tersebut dan membuat Raja Neraka ketakutan.

Dengan suara tinggi, Wukong meminta penghuni kerajaan Neraka untuk mencari buku kematian yang bertuliskan namanya dan para kera. Raja Neraka yang berusaha mencegah tidak berdaya, ia hanya bisa terduduk lemas menyaksikan Wukong mencoret-coret buku kematian.

Kelakuan Wukong membuat keempat Raja Laut dan Raja Neraka menghadap ke Langit untuk bertemu Raja Giok. Sempat mempertimbangkan untuk mengirim pasukan Langit untuk menangkap sang kera sakti, Raja Langit dinasehati oleh Tai Bai Jinxing alias Dewa Venus untuk menggunakan cara yang lebih halus : menobatkan Wukong sebagai penjaga kuda di Langit.

Di Gunung Hua Guo, Wukong terlibat pembicaraan serius dengan Bai Feng alias Pian Pian mengenai wujud sang siluman kera. Dengan cerdas, Wukong menyebut bahwa jauh lebih bebas dan gembira menjadi binatang dibanding manusia yang kerap saling menyakiti satu sama lain.

Pembicaraan keduanya terhenti oleh kemunculan Raja Siluman Kerbau, yang memberitahu bahwa utusan dari Langit telah datang. Begitu Wukong muncul, Dewa Venus langsung memberitahu kabar baik yang dibawanya. Namun ajakan untuk datang ke Istana Langit ditanggapi berbeda oleh saudara/i sedarah Wukong, yang menganggapnya sebagai jebakan.

Namun, Wukong yang percaya diri menyebut siap mengacak-acak Istana Langit bila dirinya diperlakukan tidak adil. Sempat terjadi insiden di pintu masuk kalau saja Dewa Venus tidak mencegah, Wukong akhirnya bertemu dengan Raja Langit. Sikap Wukong yang seenaknya membuat para dewa terutama Dewa Pagoda Li Jing marah, namun sang siluman kera yang tidak kenal takut malah balik menantang.

Dengan arif, Raja Langit mampu menghentikan adu mulut antara Wukong dan Li Jing sambil memberikan tugas sebagai penjaga kuda pada sang siluman kera. Tidak sadar kalau jabatan tersebut adalah yang terendah di Istana Langit, Wukong menerimanya sambil melompat-lompat kesenangan.

Sinopsis Pilgrimage to the West Episode 1

Saat dua siluman tengah memperebutkan mustika ajaib berwarna emas, mustika tersebut jatuh dan mengenai sebuah batu yang berada di gunung Hua Guo. Benturan antara batu dan mustika membuat gelombang besar yang bahkan mampu mengguncang Kerajaan Langit.

Batu tersebut akhirnya berubah menjadi kera kecil dengan warna bulu emas yang langsung diadopsi anak oleh Raja dan Ratu Kera. Oleh penasehat sang raja, kera kecil itu diberi nama Shi Hou alias Kera Batu. Hidup bersama keluarga barunya, Shi Hou benar-benar merasakan kebahagiaan.

Sayangnya tak lama kemudian terjadi tragedi, petir menyambar ke Gunung Hua Guo dan membuat para kera kocar-kacir. Bahkan, Raja Kera tewas akibat kejadian itu. Tak lama kemudian, bencana kedua muncul dalam bentuk banjir besar yang lagi-lagi membuat para kera panik.

Dalam keadaan terjepit, Shi Hou akhirnya bisa menemukan Shuilian-dong alias gua yang terletak dibelakang air terjun sebagai tempat berlindung kaum kera. Sebagai wujud terima kasih, rakyat kera sepakat mengangkatnya sebagai raja yang baru dengan julukan Mei Houwang (Raja Kera Tampan).

Mengira kalau bencana sudah lewat, Shi Hou kembali harus menghadapi kenyataan bahwa umur kera, seperti mahluk lainnya, tidaklah abadi. Begitu mendengar bahwa yang tidak mati hanyalah dewa, Wukong langsung bertekad untuk mencari tahu cara hidup abadi. Hanya bermodal rakit kecil, Shi Hou berkelana mengarungi lautan hingga tiba ke dunia manusia.

Setelah berhasil mencuri pakaian, Shi Hou menyamar sebagai manusia dan pelan-pelan mulai mempelajari banyak hal tentang kehidupan. Pengembaraan mencari dewa ternyata memakan waktu bertahun-tahun, tak terasa Shi Hou telah tumbuh sebagai kera dewasa.

Setelah melalui perjalanan panjang, Shi Hou diberitahu oleh seorang petani tentang Gua Shan Xing dimana bersemanyam pria yang telah dianggap sebagai dewa bernama Wu Di (Bodhi). Namun begitu sampai disana, salah seorang murid Wu Di memberitahu bahwa Shi Hou tidak diterima untuk bertamu.

Dasar bertekad baja, Shi Hou bertekad tidak akan pergi sampai Wu Di mau menerima dirinya. Bahkan saat turun hujan salju dan es, Shi Hou tidak bergeming didepan gua. Keteguhan monyet muda itu membuat Wu Di tergerak, ia akhirnya mengijinkan Shi Hou masuk dan menerimanya sebagai murid.

Oleh Wu Di, Shi Hou diberi nama baru : Sun Wukong. Begitu gembira, Wukong ternyata tidak serius belajar selama berada dibawah bimbingan Wu Di. Menyebut bahwa yang diinginkannya adalah menjadi dewa, Wukong menceritakan pengalamannya selama berada di dunia manusia. Mengaku tidak habis pikir dengan manusia yang tidak pernah puas, jawaban Wukong membuat Wu Di terkesima.

Kuatir dengan muridnya yang tidak bisa diatu tersebut, Wu Di akhirnya mengajarkan beberapa jurus rahasia pada Wukong mulai dari perubahan bentuk hingga terbang. Syaratnya hanya satu : Wukong tidak boleh memberitahu siapapun tentang jurus yang dikuasainya.

Terus berlatih dengan tekun, dalam waktu singkat Wukong mampu menguasai semua yang diajarkan sang guru. Namun saat dikelilingi para saudara seperguruannya, Wukong melupakan janjinya dan mempertontonkan kemampuannya berubah menjadi pohon dan seorang wanita.

Kejadian itu diamati oleh Wu Di, yang kontan merasa kecewa. Kaget melihat sang guru tahu-tahu muncul dihadapannya, Wukong sadar kalau dirinya melakukan kesalahan besar. Sayang, Wu Di tidak mau menerima permintaan maafnya dan malah mengusir Wukong.